Lampu-lampu kian padam, seseorang menutup pintu kamar rapat-rapat. Padahal saya belum terlelap disana. Saya masih disini, diatas tempat tidur ini, menatap layar gawai, sambil mengetik pada sebuah aplikasi penyunting teks. Sehari sebelum kepulangan, jarum jam masih terus memutar menemani jangkrik dan cicak. Sebenarnya, saya enggan menulis apa-apa; karena saya tidak ingin mengingat apa-apa. Tapi, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengintip kedalam ingatan. Dan sialnya, saya harus menduga rentetan jawabannya, sendiri. Satu jam lagi menuju pergantian hari. Saya masih bertanya-tanya perihal arti rindu. Memejamkan mata, menutupi wajah dengan bantal, sangsi, menunggu terlelap, enggan. Pernah seseorang berucap rindu. Menginginkan bertemu dan pastinya menyeret saya pada sebuah kepulangan. Kemudian, entah, tiada. Sejak itu, kepergian terasa lebih panjang daripada kepulangan. Pertemuan tinggal hampa. Rindu kehilangan denyutnya. Lalu, harus kemana pertanyaan-pe...