Langsung ke konten utama

Pertanyaan


Lampu-lampu kian padam, seseorang menutup pintu kamar rapat-rapat. Padahal saya belum terlelap disana. Saya masih disini, diatas tempat tidur ini, menatap layar gawai, sambil mengetik pada sebuah aplikasi penyunting teks. 

Sehari sebelum kepulangan, jarum jam masih terus memutar menemani jangkrik dan cicak. Sebenarnya, saya enggan menulis apa-apa; karena saya tidak ingin mengingat apa-apa. Tapi, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengintip kedalam ingatan. Dan sialnya, saya harus menduga rentetan jawabannya, sendiri.

Satu jam lagi menuju pergantian hari. Saya masih bertanya-tanya perihal arti rindu. Memejamkan mata, menutupi wajah dengan bantal, sangsi, menunggu terlelap, enggan. Pernah seseorang berucap rindu. Menginginkan bertemu dan pastinya menyeret saya pada sebuah kepulangan. Kemudian, entah, tiada. Sejak itu, kepergian terasa lebih panjang daripada kepulangan. Pertemuan tinggal hampa. Rindu kehilangan denyutnya. 

Lalu, harus kemana pertanyaan-pertanyaan dalam benak ini menyasar ? Kepada sesama makhluk yang sama-sama suka bermain kata kah ? Atau kepada Sang Penguasa Segala ? Namun saya sadar, sebagai makhluk, saya tak begitu peka dalam menerima jawaban-Nya.

Sebentar, semesta, bagaimana jika begini: saya akan pergi ke sebuah tempat yang memiliki genangan air dalam jumlah besar. Saya duduk di tepinya, mungkin sambil menghisap asap rokok. Menanti alam berganti, dan jingga menyeruak di langit kelam. Segera melupakan segala obrolan di aplikasi perpesanan. Lalu, ada yang datang tiba-tiba, menutup mata saya dengan tangan lembutnya dari belakang. Melepaskan rangkaian tangannya. Saat saya berbalik, ia langsung memeluk dengan erat, sangat erat. Terlihat sedikit air jatuh dari matanya, seakan sedang menemukan sesuatu yang telah lama hilang, lalu berkata "ini aku, rindu, sebenar-benarnya rindu."

Pada akhirnya, sebuah pertanyaan berjumpa dengan jawabannya, lalu menghapus rentetan pertanyaan, termasuk:

Apakah orang-orang benar-benar merindu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Un Capitano, C'e Solo Un Capitano

Laga melawan Lazio Minggu dini hari (11/5) merupakan laga terakhir Javier Zanetti dihadapan Interisti (suporter Internazionale Milano) di San Siro. " Il Tractore" ( julukan akrab untuk Zanetti) telah bermain selama 19 musim di Inter dengan berhasil mengoleksi 16 trofi yang mejadkannya pemain Inter paling sukses dalam sejarah dan pemain Inter dengan caps terbanyak di berbagai ajang. Saya mencoba mengumpulkn beberapa kutipan-kutipan beberapa pelaku sepakbola tentang Zanetti:   “Di dunia ini, tidak ada satupun pemain yang saya takuti, kecuali Zanetti,” - Marco Materazzi. “Ikon sepak bola yang sesungguhnya,” - Roberto Mancini. “Dulu dia pernah mengatakan ingin menjdi seperti saya, tapi sekarang saya ingin mengatakan kepada dia bahwa sekarang saya ingin seperti dia,” - Roberto Baggio. “Dia mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi seorang kapten sesungguhnya,” - Fabio Cannavaro. “Anda biasa melihat pelatih di sisi lapangan, ...

Jalanan itu Bernama Sepakbola

Jalanan, salah satu tempat manusia menjalankan berbagai aktivitas, dari mulai hal yang kecil sampai menggantungkan kehidupannya. Jalanan yang identik dengan kriminalitas dan keliaran, ternyata bisa juga menjadi ladang hiburan, disaat tempat bermain yang luas sudah tak ditujukan lagi kepada kita. Ya, sepakbola jalanan, permaianan sederhana nan gila yang memberikan kesan luar biasa. Alasan utama bermain sepakbola jalanan adalah karena tak disediakannya tempat yang luas untuk menggiring si kulit bundar. Banyak pula pesepakbola besar muncul dari sepakbola jalanan. Bahkan, Presiden UEFA, Michel Platini pernah berkata “The street is the best way to become a good Footballer.” Waktu paling pas memainkan permainan ini adalah ketika jam 3 sore dan akan lebih nikmat dimainkan lagi ketika hujan turun. Tak ada rumput hijau, hanya terdiri dari aspal dan tembok. Bermodalkan bola plastik seadanya. Tiang gawang yang hanya menggunakan sandal jepit atau kaleng/botol. Tidak a...