Langsung ke konten utama

The Jakmania dan Kemerdekaan Cara Mendukung

Jakartans Passion

“Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Kira-kira seperti itulah kata-kata yang terlontar pada paragraf pertama pembukaan konstitusi dasar negara ini. Merdeka yang diambil dari kata mahardika yang merupakan bahasa Sansekerta mempunyai makna: pandai, bebas, bijaksana dan tidak bergantung kepada orang lain. Dengan kata lain, kemerdekaan adalah kebebasan yang dimiliki seseorang untuk memilih dan menentukan sesuatu tanpa ada paksaan dari orang lain. Dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah, biasanya kata kebebasan diikuti dengan kata tanggung jawab. Hal tersebut harus dibenarkan; karena kebebasan tanpa tanggung jawab adalah suatu kebodohan. Kita patut bersyukur bahwa negara—yang ‘bertanggung jawab’ terhadap warganya— ini, meng-amini hal tersebut dan menetapkan kebebasan sebagai salah satu poin dalam konstitusi dasar bernegara.

Contoh umum tentang kebebasan pada lingkungan sosial adalah kemerdekaan menganut agama dan menjalakannya atau kemerdekaan mengemukakan pendapat yang dijamin oleh perundang-undangan. Untuk konteks sepak bola, contoh kebebasan yang paling terlihat ialah keputusan seseorang untuk memilih tim mana yang akan ia dukung. Terlebih dalam kalangan pendukung tim ibu kota, Persija Jakarta, terdapat isu-isu tentang kebebasan lain yang kini hangat dibicarakan; kebebasaan cara mendukung.

The Jakmania, yang merupakan kelompok suporter yang identik dengan Persija Jakarta, merupakan salah satu organisasi suporter paling berpengalaman di persepakbolaan Indonesia. Sejak dibentuk tahun 1997, organisasi yang saat ini diketuai oleh Ferry Indrasjarief, sudah memiliki ribuaan anggota yang tak hanya di Jakarta, juga menyebar ke bagian pulau Jawa lainnya. Terpilihnya kembali Bung Ferry –sapaan Ferry Indrasjarief—sebagai Ketua Umum The Jakmania, bertekad untuk membawa Jakmania menjadi kelompok yang lebih terorganisir di tengah perkembangan massa yang tak terbendung. Memang, untuk mengorganisir massa yang begitu banyak dibutuhkan suatu wadah yang memiliki aturan tertentu. Hal itu pula mungkin yang mendasari Bung Ferry untuk menggencarkan program pembuatan kartu tanda anggota (KTA) resmi The Jakmania. 

Pada awalnya, saya menganggap hal tersebut sebagai tujuan yang baik. Namun muncul statement bahwa The Jakmania itu organisasi bukan julukan. Hal itu menggambarkan ke-eksklusif-an The Jakmania sendiri. Ditambah dengan dogma The Jakmania itu hanya yang memegang KTA. Jika Jakmania adalah organisasi, maka saya yang tanpa KTA ini apa ? Bukankah pandangan publik itu menaruh The Jakmania sebagai julukan dari suporter Persija ? The Jakmania sedari dulu adalah organisasi merupakan hal yang benar, dan saya yang salah. Tapi apakah 'Jakmania'-lah yang paling cinta Persija ? Apakah yang tanpa KTA, kalian kucilkan dan memandangnya hanya mencintai Persija biasa-biasa saja ? Jika tuduhan itu jatuh kepada saya, boleh-boleh saja, terserah kalian. Tapi jika tuduhan itu untuk teman-teman di perbatasan, kalian salah besar. Banyak yang rela mengobarkan nyawa hanya untuk menyaksikan Persija dan sebagian besar bukanlah Jakmania, hanya simpatisan Persija yang tidak memiliki KTA, seperti yang kalian katakan.

Sebenarnya, keengganan saya menjadi bagian dari organisasi resmi sudah ada sejak lama. Tepatnya saat saya masih SMP. Saat itu untuk menyaksikan Persija di Jakarta, saya harus mempunyai 'barengan' untuk bisa sampai di GBK, tak mungkin saya menuju Jakarta seorang diri apalagi di daerah yang rawan konflik dengan suporter 'sebelah'. Saya putuskan untuk ikut dengan rombongan korwil terdekat yang tak bisa saya sebutkan namanya. Kian hari, saya berpikir: apakah untuk menyaksikan Persija sebelenggu ini ? Pada hari pertandingan saja, misal Persija bermain pada waktu malam, saya diharuskan untuk menunggu dari pagi hari sementara rombongan baru jalan siang hari, belum lagi bila ada 'trouble' yang bisa menyebabkan 'telat kick off'’. Apalagi kalau pertandingan berdekatan dengan hari sekolah, saya tak bisa menanggung kelelahan di usia sebesar itu. Memang itu merupakan risiko menjadi outsider, tapi haruskah saya mengobarkan banyak waktu hanya untuk mendukung Persija bermain di kandang, di Jakarta ? Apakah cinta se-naif itu ?

Keurungan saya menjadi 'The Jakmania' semakain menjadi, ketika mendengar pengalaman teman dalam mendaftar ke organisasi resmi. Ia menyebutkan bahwa proses pembuatan KTA tak kunjung jadi (mungkin sampai saat ini), entah, saya belum menanyakannya lagi. Ditambah korwil terdekat yang tak saya sebutkan terlalu mengekang kelompok Jakschool sekolah saya. Bagaimana bisa mereka menyebut jika tak bisa ikut kopdar bersama mereka, Jakschool sekolah saya dilabeli dengan 'viking'. Haha, semudah itukah ? Doktrin bodoh tanpa alasan jelas. Pernahkah mereka yang katanya berorganisasi resmi itu berpikir, bahwa idealisme saya (dan mungkin sebagian kawan) saat itu adalah seorang pelajar dan suporter. Dunia saya tak bisa melulu tentang Persija dan sebagai seorang outsider, terkadang saya bosan mendengar cerita tentang 'gelut sana gelut sini'. Apakah tak ada hal yang lebih 'elegan' yang bisa dilakukan sebuah kelompok outsider? Tujuan utama saya adalah mendukung Persija, saya tak bisa bohong. Tanpa ada eksitensi tertentu atau narisme-narsime lainnya. Yang saya takutkan ialah, jika saya bergabung menjadi korwil diatas, apakah mindset saya akan serendah yang saya jelaskan diatas ? 

Belum lagi permasalahan terkini, untuk pertandingan kandang Persija yang mengontrol distribusi tiket kategori umum adalah korwil-korwil The Jakmania itu sendiri. Yang KTA maupun non-KTA bila ingin membeli tiket kategori umum harus menghubungi korwil terdekat. “Kalau mau gampang dapat tiket, makanya bikin KTA,” tutur salah satu anggota resmi The Jakmania. Jadi, jika begitu, kalian hanya berorganisasi hanya untuk suatu kepentingan saja; mempermudah tiket dan mungkin akan menyebabkan keterpaksaan. Sampai saat ini saya putuskan untuk tidak menyaksikan pertandingan kandang Persija. Entah jika tandang, bila sempat, saya pasti dukung. Karena hanya itu yang menurut saya adil sejak dalam pikiran.

Selebihnya, saya memilih mendukung sesuai cara saya sendiri, dengan kemampuan saya tanpa paksaan dari orang lain. Seperti saat sekolah dasar, begitu asyik menonton dengan paman menggunakan motor di belakang gawang utara, makan mie instant dalam keadaan kuyup. Atau pergi naik kereta dengan teman yang tak ikut rombongan, lalu memiliki waktu santai sebelum kick off dimulai. Dan membeli tiket dengan harga kategori umum walaupun sudah masuk jeda babak. Saya ingin mencintai Persija tanpa syarat, tanpa paksaan. Apapun untuk kebaikan Persija, tak harus dengan KTA, bukan ? Saya lebih senang untuk menjadi merdeka. Karena sejatinya, Persija memang terlahir tanpa meng-eksklusif-kan ras atau kelompok tertentu, bukan ? Persija lahir karena semangat yang sama, semangat merdeka tanpa belenggu penjajah.


foto dari @Ultras_Sector5

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Un Capitano, C'e Solo Un Capitano

Laga melawan Lazio Minggu dini hari (11/5) merupakan laga terakhir Javier Zanetti dihadapan Interisti (suporter Internazionale Milano) di San Siro. " Il Tractore" ( julukan akrab untuk Zanetti) telah bermain selama 19 musim di Inter dengan berhasil mengoleksi 16 trofi yang mejadkannya pemain Inter paling sukses dalam sejarah dan pemain Inter dengan caps terbanyak di berbagai ajang. Saya mencoba mengumpulkn beberapa kutipan-kutipan beberapa pelaku sepakbola tentang Zanetti:   “Di dunia ini, tidak ada satupun pemain yang saya takuti, kecuali Zanetti,” - Marco Materazzi. “Ikon sepak bola yang sesungguhnya,” - Roberto Mancini. “Dulu dia pernah mengatakan ingin menjdi seperti saya, tapi sekarang saya ingin mengatakan kepada dia bahwa sekarang saya ingin seperti dia,” - Roberto Baggio. “Dia mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi seorang kapten sesungguhnya,” - Fabio Cannavaro. “Anda biasa melihat pelatih di sisi lapangan, ...

Pertanyaan

Lampu-lampu kian padam, seseorang menutup pintu kamar rapat-rapat. Padahal saya belum terlelap disana. Saya masih disini, diatas tempat tidur ini, menatap layar gawai, sambil mengetik pada sebuah aplikasi penyunting teks.  Sehari sebelum kepulangan, jarum jam masih terus memutar menemani jangkrik dan cicak. Sebenarnya, saya enggan menulis apa-apa; karena saya tidak ingin mengingat apa-apa. Tapi, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengintip kedalam ingatan. Dan sialnya, saya harus menduga rentetan jawabannya, sendiri. Satu jam lagi menuju pergantian hari. Saya masih bertanya-tanya perihal arti rindu. Memejamkan mata, menutupi wajah dengan bantal, sangsi, menunggu terlelap, enggan. Pernah seseorang berucap rindu. Menginginkan bertemu dan pastinya menyeret saya pada sebuah kepulangan. Kemudian, entah, tiada. Sejak itu, kepergian terasa lebih panjang daripada kepulangan. Pertemuan tinggal hampa. Rindu kehilangan denyutnya.  Lalu, harus kemana pertanyaan-pe...

Jalanan itu Bernama Sepakbola

Jalanan, salah satu tempat manusia menjalankan berbagai aktivitas, dari mulai hal yang kecil sampai menggantungkan kehidupannya. Jalanan yang identik dengan kriminalitas dan keliaran, ternyata bisa juga menjadi ladang hiburan, disaat tempat bermain yang luas sudah tak ditujukan lagi kepada kita. Ya, sepakbola jalanan, permaianan sederhana nan gila yang memberikan kesan luar biasa. Alasan utama bermain sepakbola jalanan adalah karena tak disediakannya tempat yang luas untuk menggiring si kulit bundar. Banyak pula pesepakbola besar muncul dari sepakbola jalanan. Bahkan, Presiden UEFA, Michel Platini pernah berkata “The street is the best way to become a good Footballer.” Waktu paling pas memainkan permainan ini adalah ketika jam 3 sore dan akan lebih nikmat dimainkan lagi ketika hujan turun. Tak ada rumput hijau, hanya terdiri dari aspal dan tembok. Bermodalkan bola plastik seadanya. Tiang gawang yang hanya menggunakan sandal jepit atau kaleng/botol. Tidak a...